Boyolali, Jatimmandiri.id – Siapa sangka kegemaran bermain game bisa menjadi pintu menuju prestasi dunia. Hal itu dibuktikan Ibrahim Al Abrar atau Ibra, siswa kelas VI SD asal Boyolali, Jawa Tengah, yang berhasil memperoleh surat penghargaan dari NASA setelah menemukan celah keamanan pada salah satu sistem digital milik lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut.
Temuan itu dihasilkan melalui proses belajar mandiri yang berawal dari ketertarikannya pada dunia game. Alih-alih berhenti sebagai hobi, minat tersebut berkembang menjadi kemampuan di bidang coding dan keamanan siber (cyber security), hingga akhirnya membawa namanya mendapat apresiasi dari NASA.
Ibra mengaku terinspirasi setelah membaca kisah para peneliti keamanan yang berhasil menemukan kerentanan pada sistem NASA. Berbekal rasa penasaran, ia mulai mencoba melakukan hal serupa melalui mekanisme pelaporan resmi.
“Saya membuka berita-berita orang yang berhasil mendapat celah keamanan sistem di NASA, hingga kemudian terinspirasi. Setelah beberapa kali mengirim, temuan celah saya akhirnya terverifikasi mendapat surat apresiasi dari NASA tersebut,” ujar Ibra.
Temuan Celah Keamanan Dinilai Membantu Lindungi Sistem NASA
Celah keamanan atau security vulnerability merupakan titik lemah dalam sistem digital yang berpotensi dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menyerang sistem maupun mencuri data.
Karena itu, ketika seseorang menemukan kerentanan tersebut lalu melaporkannya melalui jalur yang benar, informasi tersebut dapat digunakan pengembang untuk memperbaiki sistem sebelum disalahgunakan. Atas kontribusi itulah NASA memberikan penghargaan kepada Ibra.
Berawal dari Hobi Bermain Game
Di balik pencapaiannya, terdapat peran besar sang ayah, Aminuddin. Melihat putranya gemar bermain game sejak kecil, ia memilih mengarahkan minat tersebut ke aktivitas yang lebih produktif daripada sekadar membatasi.
“Daripada cuma main game, saya mencoba mengubah mindset-nya, kenapa enggak coba bikin game sendiri?” kata Aminuddin.
Saran sederhana itu menjadi titik awal Ibra mengenal dunia pemrograman. Setelah memahami dasar-dasar coding, ketertarikannya berkembang ke bidang keamanan siber. Ia belajar secara otodidak melalui internet dan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memahami berbagai materi.
Meski banyak sumber belajar yang harus diakses secara berbayar, Ibra tidak menyerah. Rasa ingin tahunya justru mendorongnya terus mendalami bidang tersebut.
Dukungan Orang Tua Jadi Kunci Perkembangan Anak
Aminuddin yang berprofesi sebagai pengajar Teknik Komputer dan Jaringan di salah satu SMK di Boyolali mengaku bukan pakar keamanan siber. Namun, ia berusaha memenuhi kebutuhan belajar putranya secara bertahap.
“Saya support, ya. Misalnya awal-awal Ibrahim belajar coding dari HP. Bertahap saya belikan mini PC, terus ada rezeki lagi, saya belikan laptop,” ujarnya.
Kisah ini menunjukkan bahwa orang tua tidak harus menguasai bidang yang diminati anak. Dukungan, kepercayaan, dan kesempatan untuk belajar justru menjadi modal penting dalam mengembangkan potensi mereka.











