Surabaya, Jatimmandiri.id – Upaya menjaga Aksara Jawa agar tetap hidup di tengah generasi muda mendapat dorongan baru. Komisi E DPRD Jawa Timur meminta Dinas Pendidikan Provinsi Jatim mengembangkan metode pembelajaran berbasis Kartu Aksara Jawa untuk diterapkan di SMA dan SMK.
Gagasan tersebut dinilai dapat membuat pembelajaran bahasa dan Aksara Jawa lebih menarik sekaligus memperkuat karakter serta identitas budaya pelajar. Penerapannya memiliki landasan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 36 Tahun 2024 tentang Muatan Lokal Bahasa dan Aksara Jawa.
Ketua Komisi E DPRD Jatim Sri Untari Bisowarno mengatakan, implementasi metode tersebut dapat dimulai melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Para guru terlebih dahulu mendapat pelatihan dengan sistem Training of Trainers (ToT) sebelum menerapkannya kepada siswa.
“Penerapannya nanti tinggal dimulai dari MGMP. Guru mata pelajaran diberikan tutorial terlebih dahulu melalui sistem Training of Trainers (ToT), baru kemudian diajarkan di sekolah-sekolah. Muatan lokal ini nantinya mendapat porsi sebanding dengan mata pelajaran konvensional, biasanya sekitar dua jam pelajaran,” ujar Sri Untari usai audiensi di Gedung DPRD Jatim.
Menurutnya, pelestarian Aksara Jawa bukan semata persoalan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menyangkut upaya mempertahankan jati diri bangsa.
“Huruf Jawa itu bukan sekadar huruf biasa, tapi itu carakan yang dulu dipakai di seluruh Nusantara pada masa kejayaan Majapahit ke bawah. Lewat aksara, berbagai filosofi kehidupan diimplementasikan ke dalam simbol-simbolnya. Kita ingin mengembalikan jati diri itu agar tidak hilang di masa modern,” tegasnya.
Belajar Aksara Jawa Lewat Permainan
Dorongan tersebut muncul setelah hadir inovasi Kartu Aksara Jawa yang diperkenalkan seniman sekaligus budayawan Jawa Timur, Taufik Monyong. Metode ini dikembangkan setelah melalui riset selama lebih dari lima tahun sebagai alternatif pembelajaran budaya yang lebih interaktif.
“Kartu ini kami ciptakan sebagai tawaran balik, sebuah konsep kesadaran untuk mengubah cara berpikir dan ketergantungan pada ajaran Barat,” ungkap Taufik.
Berbeda dengan kartu remi konvensional yang berjumlah 54 lembar, Kartu Aksara Jawa terdiri atas 94 kartu. Isinya memadukan unsur aksara dan wilangan atau bilangan, konsep ruang dan waktu tradisional seperti Saptoworo dan Pancawaro, serta filosofi tokoh pewayangan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Kartu tersebut dirancang dalam delapan format permainan, mulai dari sarana edukasi umum hingga pembacaan karakter spiritual.
Taufik menyebut produksi kartu telah disiapkan secara mandiri melalui pabrik yang dibangun bersama penggiat budaya dan pengusaha lokal. Dengan skema tersebut, pengembangannya diklaim tidak bergantung pada anggaran pemerintah.
“Kami sudah siapkan stok pabriknya, minta berapa pun yang dibutuhkan pemerintah, kami siap. Kami tidak tergantung pada anggaran negara karena ini persembahan untuk mengembalikan marwah leluhur,” katanya.
Selanjutnya, metode pembelajaran tersebut akan memasuki tahap koordinasi final dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Peluncuran resmi dijadwalkan pada 23 Juli 2026.
Jika terealisasi, Kartu Aksara Jawa diharapkan menjadi cara baru mengenalkan warisan Nusantara kepada pelajar melalui pendekatan yang lebih interaktif, sekaligus menjaga literasi tradisional tetap relevan di tengah perkembangan era digital.












