Jakarta, Jatimmandiri.id – Kinerja ekspor batu bara Indonesia pada periode Januari hingga April 2026 mengalami perlambatan.
Berdasarkan laporan Daily Economic Review yang diterbitkan Office of Chief Economist PT Bank Mandiri, total volume ekspor batu bara nasional selama empat bulan pertama tahun ini tercatat mencapai 151,1 juta ton atau turun 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 162,3 juta ton.
Tidak hanya dari sisi volume, nilai ekspor batu bara Indonesia juga mengalami kontraksi. Sepanjang Januari-April 2026, nilai ekspor batu bara tercatat sebesar USD9,3 miliar atau turun 6,6 persen secara tahunan dibandingkan USD9,9 miliar pada periode Januari-April 2025.
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh koreksi harga batu bara global serta berkurangnya volume ekspor.
Tiongkok masih menjadi pasar utama bagi batu bara Indonesia. Sepanjang empat bulan pertama 2026, negeri Tirai Bambu menyerap sekitar 35,7 persen dari total ekspor batu bara Indonesia, meskipun angka tersebut sedikit menurun dibandingkan pangsa ekspor sebesar 36,7 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Volume ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok tercatat sebesar 54 juta ton atau turun 9,4 persen dibandingkan 59,6 juta ton pada Januari-April 2025.
Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya permintaan impor batu bara Tiongkok yang turun 2,2 persen secara tahunan menjadi 149,4 juta ton dari sebelumnya 152,7 juta ton.
Meski terjadi penurunan volume perdagangan, Indonesia masih mempertahankan posisinya sebagai pemasok batu bara terbesar bagi Tiongkok.
Berdasarkan data Maret 2026, pangsa pasar batu bara Indonesia di negara tersebut masih mencapai sekitar 30 persen dari total impor batu bara Tiongkok.
Di sisi lain, pemerintah memasukkan batu bara ke dalam daftar komoditas strategis yang pengelolaan ekspornya akan dilakukan melalui mekanisme satu pintu oleh PT Danantara Sumber Daya Indonesia.
Selain batu bara, dua komoditas lain yang masuk dalam skema tersebut adalah crude palm oil (CPO) dan ferro-alloy.
Ketiga komoditas strategis tersebut mencatat nilai ekspor sebesar USD65,4 miliar atau setara 23,1 persen dari total ekspor nasional sepanjang 2025.
Rinciannya, batu bara dengan kode HS 2701 berkontribusi sebesar USD24,5 miliar, CPO (HS 1511) sebesar USD24,4 miliar, dan ferro-alloy (HS 7202) mencapai USD16,5 miliar.
Sementara itu, harga rata-rata batu bara Newcastle secara year-to-date hingga 4 Juni 2026 berada di level USD125,6 per ton.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga batu bara Newcastle sepanjang 2025 yang berada pada level USD106,3 per ton.
Ke depan, pemerintah diharapkan mampu menerapkan tata kelola ekspor satu pintu yang transparan, akuntabel, dan memberikan kepastian regulasi bagi para pelaku usaha.
Dengan demikian, aktivitas ekspor dapat berjalan lebih efektif sekaligus menjaga daya saing komoditas batu bara Indonesia di pasar global.












