Jatim

140 Peserta Ikuti Kaligrafi Pegon HSN 2026, Lesbumi PCNU Lamongan Lestarikan Warisan Santri

Penulis: RedaksiEditor: Eko Yudiono
×

140 Peserta Ikuti Kaligrafi Pegon HSN 2026, Lesbumi PCNU Lamongan Lestarikan Warisan Santri

Sebarkan artikel ini
Sebanyak 140 peserta mengikuti Musabaqah Kaligrafi Pegon HSN 2026 di Lamongan. Lesbumi PCNU Lamongan dorong pelestarian aksara Pegon dan identitas Kota Santri.
Example 468x60

Lamongan, Jatimmandiri.id – Sebanyak 140 peserta mengikuti Musabaqah Kaligrafi Pegon (MKP) yang diselenggarakan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Lamongan di Graha Narita, Tambakrigadung, Kecamatan Tikung, Rabu (21/10/2026).

Kegiatan dalam rangkaian Hari Santri Nasional (HSN) 2026 ini menjadi upaya melestarikan aksara Pegon sebagai warisan intelektual ulama Nusantara.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Dari total peserta, enam orang terpilih sebagai pemenang dalam tiga kategori, yakni Ula, Wustha, dan Ulya. Selain menjadi ajang kompetisi seni kaligrafi, kegiatan ini diharapkan mampu memperkenalkan kembali aksara Pegon kepada generasi muda.

Wakil Ketua PCNU Lamongan sekaligus Pembina Lesbumi, Agus Susanto, yang mewakili Ketua PCNU Lamongan Sahrul Munir, mengatakan bahwa MKP kali ini merupakan penyelenggaraan perdana di Lamongan. Ia bahkan menyebut kegiatan tersebut sebagai yang pertama di Indonesia.

“MKP pada HSN 2026 ini menjadi yang pertama dilaksanakan di Lamongan, bahkan di Indonesia,” ujar Agus.

Menurutnya, penyelenggaraan musabaqah tersebut memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Lamongan sebagai daerah yang berkembang melalui dakwah Islam dan peran penting para ulama serta santri. Karena itu, pelestarian aksara Pegon dinilai sejalan dengan identitas Lamongan sebagai Kota Santri.

“Lamongan memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perjuangan para santri dan ulama. Melalui kegiatan ini, kita ingin menghidupkan kembali warisan mereka sekaligus mengenalkan Pegon kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman,” jelasnya.

Sejarah Lamongan dan Peran Para Santri

Sejarah Lamongan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Islam di Jawa pada abad ke-16. Dalam tradisi sejarah lokal, sejumlah tokoh yang dikaitkan dengan penyebaran Islam dan pembentukan pemerintahan awal Lamongan antara lain Ronggo Hadi atau Tumenggung Surajaya, Raden Goliah, dan Kanjeng Pangeran Haryo Jimat.

Baca Juga  Momentum Harhubnas KSOP Kalianget Perkuat Pendidikan Vokasi Maritim di SMKN 1

Ronggo Hadi disebut berasal dari Cancing, Ngimbang, sedangkan Raden Goliah berasal dari Mantup. Adapun Kanjeng Pangeran Haryo Jimat dikaitkan dengan Plosowahyu. Dalam tradisi lokal, ketiganya dikenal memiliki hubungan dengan jaringan keilmuan Sunan Giri III.

Di antara tokoh tersebut, Ronggo Hadi memiliki peran penting dalam sejarah pemerintahan Lamongan. Ia dikenal dengan sebutan Mbah Lamong dan kemudian bergelar Tumenggung Surajaya.

Berdasarkan sejarah resmi Kabupaten Lamongan, 26 Mei 1569 menjadi tonggak penting ketika Ronggo Hadi diangkat sebagai Adipati Lamongan pertama oleh Sunan Giri IV atau Sunan Prapen. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Lamongan.

Sejarah ini memperlihatkan eratnya hubungan antara perkembangan dakwah Islam, jaringan pesantren, dan pembentukan pemerintahan di Lamongan. Peran ulama dan santri tidak hanya berpengaruh dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam membentuk identitas sosial dan budaya masyarakat.

Bagi Agus, warisan sejarah tersebut perlu terus dihidupkan melalui berbagai kegiatan kebudayaan, termasuk pengenalan dan pelestarian aksara Pegon.

Pegon, Warisan Literasi Ulama Nusantara

Agus menjelaskan, aksara Pegon merupakan salah satu warisan penting ulama terdahulu. Aksara ini menggunakan huruf Arab yang disesuaikan untuk menuliskan bahasa lokal sehingga ilmu agama dan berbagai pengetahuan dapat disampaikan dengan bahasa yang dipahami masyarakat.

Pegon terutama berkembang dalam tradisi penulisan bahasa Jawa. Penggunaannya juga dikenal dalam tradisi literasi Sunda dan Madura. Sementara itu, tradisi penulisan bahasa Melayu dengan huruf Arab lebih lazim dikenal sebagai aksara Jawi. Sejumlah naskah berbahasa Bali juga ditemukan menggunakan tulisan Arab-Pegon.

“Pegon merupakan warisan yang penting. Aksara ini menjadi bagian dalam bahasa lokal sehingga dipahami masyarakat kala itu, baik Jawa, Sunda, Madura, Bali, maupun Melayu,” ungkap Agus.

Baca Juga  682 Peserta Ramaikan Pameran dan Kontes Bonsai Nasional 2026 di Lamongan

Dalam lingkungan pesantren, Pegon memiliki fungsi penting sebagai sarana mencatat dan mempelajari ilmu agama. Tradisi penulisan tersebut berkembang berdampingan dengan berbagai sistem aksara lain yang telah dikenal masyarakat Nusantara, termasuk aksara Jawa dan Kawi.

Penggunaan huruf Arab yang ditulis dari kanan ke kiri memudahkan para santri mencatat penjelasan kiai dalam bahasa yang mereka gunakan sehari-hari. Melalui penyesuaian bunyi bahasa lokal dengan huruf Arab, Pegon berkembang menjadi media pembelajaran yang membantu penyampaian ilmu secara lisan maupun tertulis.

Tradisi tersebut menjadi bukti kreativitas para ulama dalam mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pegon bukan sekadar sistem penulisan, melainkan bagian dari perjalanan panjang pendidikan dan literasi Islam di Nusantara.

Agus Susanto Dorong Pegon Hadir di Ruang Publik

Agus berharap pelestarian Pegon tidak berhenti pada kegiatan pesantren dan perlombaan kaligrafi. Ia mendorong agar aksara tersebut diperkenalkan lebih luas melalui berbagai fasilitas publik di Kabupaten Lamongan.

Salah satu gagasan yang disampaikan ialah penggunaan tulisan Pegon pada nama jalan, penanda tempat, serta kantor pemerintahan. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi sarana edukasi budaya sekaligus memperkuat identitas Lamongan sebagai Kota Santri.

“Kalau Pegon dapat dihadirkan di ruang publik, masyarakat akan lebih mudah mengenal dan mempelajari warisan para ulama. Ini juga menjadi cara untuk memperkuat identitas Lamongan sebagai daerah yang memiliki tradisi pesantren,” tambahnya.

Ia berharap Lamongan dapat menjadi pelopor penerapan Pegon secara lebih luas di ruang publik tingkat kabupaten. Namun, gagasan tersebut perlu didukung kajian dan perencanaan yang matang, terutama terkait ketepatan penulisan, keterbacaan, dan penempatannya agar tetap mudah dipahami masyarakat.

Penggunaan Pegon berdampingan dengan tulisan Latin berpotensi memperkaya identitas visual daerah. Selain itu, langkah tersebut dapat menjadi media pembelajaran yang memperkenalkan khazanah literasi Islam Nusantara kepada masyarakat lintas generasi.

Baca Juga  Resmi Pimpin KPH Nganjuk, Agus Suryawan Siap Lanjutkan Sinergi dan Kelestarian Hutan

Pelestarian Pegon juga dapat dilakukan melalui pengajaran aksara, dokumentasi naskah lama, penyelenggaraan kegiatan kaligrafi, serta pengembangan materi pendidikan berbasis kebudayaan lokal.

Dengan demikian, tradisi pesantren tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga dapat terus berkembang dan memberikan manfaat dalam kehidupan masyarakat modern.

Lamongan Nyantri Perkuat Identitas Kota Santri

Gagasan memperluas pengenalan Pegon dinilai sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Lamongan, yakni Lamongan Nyantri. Program tersebut diluncurkan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi pada 26 Mei 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kabupaten Lamongan ke-456.

Agus berharap program tersebut dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk merawat tradisi keilmuan, kebudayaan, dan nilai-nilai pesantren yang telah mengakar di Lamongan.

Menurutnya, kepemimpinan daerah memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan warisan budaya sekaligus menghubungkannya dengan kebutuhan generasi masa kini.

“Pak Bupati Yes akan menjadi tokoh sentral dalam nguri-uri budaya, sebagai penerus estafet kepemimpinan Lamongan yang selaras dengan kronik sejarah awal berdirinya Lamongan. Bahwa Lamongan adalah Kota Santri. Ini legacy yang luar biasa!” pungkas pria asal Plosowahyu tersebut.

Melalui Musabaqah Kaligrafi Pegon HSN 2026, Lesbumi PCNU Lamongan berupaya menghadirkan kembali tradisi literasi pesantren dalam bentuk kegiatan yang melibatkan generasi muda.

Perlombaan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang Pegon, sekaligus menegaskan bahwa pelestarian warisan ulama merupakan bagian penting dalam menjaga identitas Lamongan sebagai Kota Santri.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *