Bandarlampung, Jatim Mandiri – Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung menyatakan penguatan hilirisasi komoditas daerah memerlukan ekosistem terintegrasi. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menyampaikan hal itu di Bandarlampung, Sabtu (17/10). Tahun pernyataan tersebut tidak disebutkan dalam informasi yang tersedia.
Menurut Bimo, hilirisasi bukan hanya pengembangan industri. Upaya tersebut juga memerlukan dukungan berbagai unsur yang saling terhubung, mulai dari produksi, regulasi, infrastruktur, pembiayaan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia. Keseluruhan aspek itu diperlukan untuk membangun iklim investasi yang kondusif.
“Hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan pengembangan industri, melainkan pembangunan ekosistem yang terintegrasi mulai dari aspek produksi, regulasi, infrastruktur, pembiayaan, hingga penguatan sumber daya manusia guna menciptakan iklim investasi yang kondusif,” ujar Bimo.
Bimo mengatakan regulasi yang mendukung perlu memudahkan investasi. Dukungan tersebut mencakup rencana tata ruang wilayah atau RTRW, serta penyelarasan proyek dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Ia juga menekankan penguatan tata kelola yang bersih dari praktik pungutan liar. Selain itu, optimalisasi Online Single Submission (OSS) menjadi bagian dari upaya membentuk regulasi yang mendukung investasi dan pengembangan hilirisasi komoditas di Lampung.
Pembangunan ekosistem terintegrasi juga membutuhkan infrastruktur memadai. Bimo menyebut kebutuhan itu meliputi ketersediaan air bersih, pasokan listrik yang andal, serta sarana dan prasarana logistik dan bongkar muat yang efisien.
“Selain itu percepatan pertumbuhan ekonomi penguatan hilirisasi melalui pembentukan ekosistem terintegrasi itu juga memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai, termasuk ketersediaan air bersih, pasokan listrik yang andal, dan sarana prasarana logistik serta bongkar muat yang efisien,” katanya.
Dalam mendorong iklim investasi yang semakin kompetitif, Bimo menyebut sinergi dan konsistensi kebijakan sebagai kunci. Dukungan yang selaras diperlukan dari sektor fiskal, moneter, dan sektor keuangan. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hilirisasi dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Ke depan penguatan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi Lampung perlu difokuskan pada tiga cita utama, yaitu mewujudkan pertumbuhan yang inklusif, mandiri, dan inovatif,” ucap Bimo. Ia juga menyampaikan perlunya memperkuat sumber daya manusia yang unggul dan produktif, meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan, serta mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif dan berintegritas.
Bimo menambahkan, pembentukan ekosistem tersebut perlu ditopang sinergi fiskal, moneter, sektor keuangan, dan pemerintah daerah. Sinergi itu dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Lampung agar inklusif dan berkelanjutan. Upaya hilirisasi, menurutnya, berkaitan dengan penguatan unsur produksi dan kebijakan, sekaligus dukungan infrastruktur, pembiayaan, serta sumber daya manusia.
“Oleh karena itu dengan ekosistem yang terbentuk ini menjadikan hilirisasi yang ditopang oleh sinergi fiskal, moneter, sektor keuangan dan pemerintah daerah akan menjadi fondasi penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Lampung yang inklusif serta berkelanjutan,” tambahnya.












