Malang, Jatim Mandiri — Dua gempa tektonik mengguncang wilayah selatan Jatim dalam rentang waktu kurang dari 14 jam, Minggu-Senin (4-5/10). Meski kekuatan gem[pa relatif terasa, BMKG memastikan keduanya tidak saling berkaitan.
Gempa pertama bermagnitudo 4,6 berpusat di selatan Malang, sedangkan gempa kedua bermagnitudo 4,4 berasal dari zona subduksi selatan Lumajang. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang Ricko Kardoso mengatakan kedua gempa merupakan aktivitas tektonik yang lazim terjadi di Indonesia. Jatim berada di kawasan aktif pergerakan lempeng bumi.
Gempa pertama terjadi Minggu (4/10) pukul 19.36 WIB dengan magnitudo 4,6. Episenternya berada sekitar 139 kilometer tenggara Kabupaten Malang dengan kedalaman 35 kilometer.
Getaran gempa tersebut dirasakan di sejumlah wilayah Jatim. Intensitas III MMI tercatat di Malang dan Lumajang, sedangkan intensitas II MMI dirasakan di Tulungagung, Blitar, dan Jember.
Skala III MMI umumnya menunjukkan getaran terasa nyata di dalam rumah dan dapat membuat benda-benda ringan bergoyang. Hingga laporan awal diterbitkan, tidak terdapat laporan kerusakan akibat gempa.
Gempa kedua terjadi Senin (5/10) pukul 09.16 WIB dengan magnitudo 4,4 dan kedalaman 76 kilometer. Episenternya berada sekitar 133 kilometer barat daya Kabupaten Lumajang. Parameter gempa dapat dimutakhirkan setelah pengolahan data.
Ricko menegaskan kedua gempa memiliki sumber dan mekanisme berbeda. Gempa Malang dipicu aktivitas sesar aktif di bawah laut selatan Jatim, sedangkan gempa Lumajang berkaitan dengan aktivitas subduksi.
“Adapun apakah kedua gempa ini saling berkaitan, dilihat dari kedalamannya dan sumber penyebab kejadian gempa buminya, kedua gempa ini adalah gempa yang berbeda,” kata Ricko, Senin (5/10).
Meski terjadi dalam waktu berdekatan, kedua gempa tersebut hanya menimbulkan getaran yang dirasakan masyarakat di beberapa wilayah. Tidak terdapat laporan dampak signifikan akibat kedua kejadian tersebut.
BMKG terus memantau perkembangan aktivitas kegempaan di Jatim dan sekitarnya. Masyarakat diminta tetap tenang, mengikuti informasi resmi BMKG, serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. (ant/ibn)












