Jatim

Dikepung Panas Ekstrem, Sawah Tambak Jabon dan Sedati Terancam Puso

Penulis: Dicky DeaEditor: Alif Bintang
×

Dikepung Panas Ekstrem, Sawah Tambak Jabon dan Sedati Terancam Puso

Sebarkan artikel ini
Petani di Tambak Jabon melakukan kegiatan perontokan jerami.
Example 468x60

Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Paparan cuaca panas ekstrem yang melanda Kabupaten Sidoarjo dalam beberapa pekan terakhir mulai memukul sektor pertanian lokal.

Suhu udara menyengat yang menembus angka 36 derajat celsius memaksa Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Sidoarjo menyiagakan alarm kewaspadaan tinggi, terutama bagi para petani di kawasan persawahan tambak wilayah Kecamatan Jabon dan Kecamatan Sedati.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Kondisi tanah yang mengering akibat laju penguapan tinggi menempatkan tanaman padi pada fase kritis yang rentan mengalami puso atau gagal panen.

Merespons situasi darurat ini, pemerintah daerah bergerak cepat melakukan intervensi dengan mengoptimalkan pasokan serta pembagian debit air melalui jaringan saluran irigasi sekunder.

Koordinator Data dan Informasi BMKG Juanda, Teguh Tri Susanto, menjelaskan bahwa lonjakan suhu udara menyengat ini dipicu oleh minimnya tutupan awan pada fase puncak peralihan musim.

“Analisis dinamika atmosfer terkini menunjukkan bahwa pergerakan semu matahari berada tepat di atas garis katulistiwa, ditambah dengan embusan angin monsun tenggara yang kering dari benua Australia. Hal ini menyebabkan intensitas radiasi matahari langsung ke bumi menjadi sangat maksimal, sehingga suhu udara di Sidoarjo konsisten menyentuh 36 derajat celsius pada siang hari. Kami memprediksi kondisi terik tanpa hujan ini masih akan bertahan hingga beberapa pekan ke depan, dan kami mengimbau sektor pertanian untuk mengatur pola sirkulasi air secara cermat,” urai Teguh, Kamis (1/10/2026).

Ancaman kekeringan ini memicu kecemasan mendalam di tingkat petani arus bawah.

Sukarno (54), seorang Ketua Kelompok Tani di Sidoarjo, mengungkapkan bahwa minimnya pasokan air saat ini berkejaran langsung dengan waktu pematangan usia padi yang sangat krusial.

“Kami para petani di wilayah Jabon dan Sedati sangat cemas karena debit air irigasi terus menyusut drastis, padahal tanaman padi saat ini sedang masuk fase pengisian bulir. Jika dalam satu minggu ke depan sawah tambak kami tidak mendapatkan pasokan air tawar yang cukup dari saluran sekunder, bulir padi akan kopong dan kami dipastikan menghadapi risiko gagal panen total atau puso,” keluh Sukarno penuh rasa khawatir.

Baca Juga  Kediri Raya Siap Kolaborasi untuk Tuan Rumah Porprov 2029

Kini, keberlangsungan ketahanan pangan di kawasan pesisir Kota Delta bergantung penuh pada efektivitas distribusi air irigasi buatan untuk menekan dampak buruk fenomena cuaca ekstrem tersebut.

“Kami sangat berharap bantuan penggelontoran air dari dinas terkait bisa dialirkan secara adil dan merata setiap malam agar modal tanam kami tidak hangus begitu saja,” harapnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Puluhan sopir truk yang tergabung dalam Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) masih bertahan di Jalan Jagir Wonokromo,…

Berita

Pasuruan, Jatim Mandiri DPRD Kabupaten Pasuruan menggelar Paripurna III untuk mendengarkan jawaban pemerintah atas pandangan fraksi terhadap lima Raperda Non-APBD…

Berita

Malang, Jatim Mandiri Polres Malang melibatkan Bhabinkamtibmas di tingkat desa untuk mendukung ketahanan pangan melalui pendampingan petani dan pemantauan lahan…

Berita

Malang, Jatim Mandiri Pemkot Malang masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab perubahan warna air Sungai Brantas di Mergosono,…