Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Sebanyak 33 grup karawitan dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK se-Kabupaten Sidoarjo ambil bagian dalam Festival Gamelan Kahuripan ke-4 yang digelar Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Sidoarjo, Sabtu (26/9).
Festival yang berlangsung meriah tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperkenalkan kembali musik tradisional kepada generasi muda. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga adat dan tembang daerah di tengah perkembangan budaya modern.
Ketua Dekesda Sidoarjo Ribut Wijoto mengatakan antusiasme sekolah mengikuti festival menunjukkan bahwa gamelan masih mendapat tempat di kalangan generasi muda Sidoarjo.
“Kami sangat bangga melihat penampilan anak-anak hari ini. Gamelan bukan sekadar alat musik, melainkan jati diri budaya kita. Melalui Festival Gamelan Kahuripan Ke-4 ini, Dekesda ingin memastikan bahwa regenerasi pelaku seni karawitan di Sidoarjo tidak terputus. Mereka adalah penjaga gawang kelestarian adat tembang daerah di masa depan,” ujar Ribut.
Menurut dia, keterlibatan puluhan kelompok pelajar menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan seni karawitan di Sidoarjo. Festival diharapkan tidak berhenti sebagai ajang kompetisi, tetapi menjadi ruang pembelajaran dan pembentukan generasi yang memiliki kepedulian terhadap budaya daerah.
Manfaat kegiatan juga dirasakan langsung oleh peserta. Sri Wahyuni (42), guru pendamping sekaligus pelatih karawitan salah satu SMP peserta, mengatakan para siswa menjalani persiapan sekitar satu bulan sebelum tampil.
“Persiapan anak-anak untuk tampil di festival ini kurang lebih satu bulan. Mereka sangat disiplin latihan sepulang sekolah. Ajang seperti ini sangat penting karena anak-anak jadi punya panggung dan tujuan yang jelas untuk menampilkan bakat mereka,” ungkap Sri.
Menurutnya, festival juga membantu mengubah pandangan siswa terhadap kesenian tradisional. Mereka tidak lagi merasa malu memainkan gamelan, tetapi justru bangga dapat membawakan tembang daerah.
Dekesda Sidoarjo berharap festival tersebut dapat terus digelar secara konsisten sebagai agenda budaya tahunan. Sinergi antara pemerintah, sekolah, seniman, dan masyarakat dinilai penting untuk menjaga kesinambungan regenerasi pelaku seni karawitan di Sidoarjo.












