Beritaꦧꦸꦢꦪ

Apa yang Dimakan Penduduk Kota yang Hilang?

×

Apa yang Dimakan Penduduk Kota yang Hilang?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Peralatan perang kuno berpadu dengan hasil pertanian berupa padi, beras, serealia, dan kacang-kacangan, menggambarkan keterkaitan pertahanan, pangan, dan sistem kehidupan masyarakat kota kuno.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

JIKA Atlantis digambarkan sebagai kota besar, persoalan pentingnya bukan hanya bangunan dan kanal, tetapi juga bagaimana penduduknya memperoleh makanan setiap hari. Kajian Dhani Irwanto membaca uraian pangan Plato sebagai sistem penyediaan yang menghubungkan bahan pokok, legum, panen dua kali, dan pengairan dalam rekonstruksi Sundaland.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

————————

Dalam Critias 115a-b, Plato menggambarkan hasil pertanian yang dikeringkan sebagai bahan pangan utama. Uraian itu kemudian menyebut bahan yang digunakan bersama makanan pokok dan dikategorikan sebagai ospria, istilah Yunani untuk kelompok polong-polongan atau legum.

Dhani menggabungkan bagian tersebut dengan Critias 118e, yang menyebut dua kali panen dalam setahun. Panen pertama berlangsung pada musim dingin dengan bantuan hujan, sedangkan panen berikutnya berlangsung pada musim panas menggunakan air dari kanal.

Dhani menyebut gabungan kedua bagian teks itu sebagai “Provisioning Complex”. Menurut rekonstruksinya, teks menyediakan petunjuk mengenai makanan pokok yang dapat disimpan, tanaman pendamping, pengeringan, penyimpanan, serta kalender pertanian berbasis ketersediaan air.

Yang menarik, Dhani tidak langsung menetapkan jenis tanaman berdasarkan kata Yunani tersebut. Ia mempertahankan dua kemungkinan pembacaan, yakni sistem bahan pokok serealia dengan legum pendamping atau satu kelompok pangan kering yang lebih umum.

Dalam pembacaan pertama, beras menjadi kandidat yang memungkinkan sebagai bahan pokok. Legum kemudian ditempatkan sebagai pangan pendamping. Namun, Dhani menegaskan bahwa teks sendiri tidak menyebut spesies tanaman secara langsung.

Pendekatan tersebut penting karena istilah Yunani sitos memiliki cakupan makna berupa biji-bijian atau bahan pangan pokok. Sementara itu, ospria menunjuk kelompok polong-polongan, bukan satu jenis kacang tertentu.

Karena itu, pertanyaan “apa yang dimakan penduduk Atlantis?” belum memiliki jawaban tunggal. Jawaban yang lebih aman adalah bahwa Plato menggambarkan sistem pangan berbasis hasil pertanian kering, bahan pendamping, serta panen yang mengikuti kondisi air.

Baca Juga  LIRA Soroti Proyek Barak Dalmas

Dari sini, persoalan bergerak dari dapur menuju logistik kota. Plato menggambarkan jaringan kanal yang membawa hasil bumi menuju kota dan menyebut pengangkutan kayu serta hasil pertanian melalui saluran air.

Jika gambaran itu dibaca sebagai sistem kota besar, makanan tidak cukup hanya tersedia di ladang. Ada kebutuhan untuk memanen, mengeringkan, menyimpan, mengangkut, dan mendistribusikan bahan pangan kepada penduduk.

Rekonstruksi Dhani untuk kawasan selatan Kalimantan memasukkan kanal, lantai pengeringan, lumbung, serta jaringan logistik sebagai unsur yang perlu diuji bersama. Ia menyebut beras sebagai kemungkinan bahan pokok yang secara proses cocok dengan pengeringan dan penyimpanan.

Namun, bagian tersebut tetap merupakan rekonstruksi penelitian, bukan bukti arkeologis bahwa Atlantis berada di Kalimantan. Dhani menempatkan tahap berikutnya pada pencarian residu serealia dan legum, mikrostratigrafi lumbung, serta bukti panen yang dapat diberi penanggalan.

Pertanyaan itu memiliki dasar dalam arkeobotani Asia Tenggara. Penelitian kawasan ini menggunakan sisa tanaman, serbuk sari, dan fitolit untuk menelusuri pertanian masa lalu, termasuk bukti budidaya padi.

Penelitian arkeobotani di Semenanjung Thailand juga menemukan bukti sereal, kacang-kacangan, dan tanaman lain yang membantu menjelaskan bagaimana komunitas pesisir memperoleh pangan serta berhubungan dengan jaringan perdagangan.

Temuan semacam itu menunjukkan bahwa kota atau pusat perdagangan tidak berdiri sendiri. Kebutuhan pangan dapat membentuk hubungan antara lahan pertanian, sungai, pelabuhan, tempat penyimpanan, dan komunitas pemasok.

Ilmuwan BRIN Danny Hilman Natawidjaja sebelumnya juga menilai unsur flora, fauna, musim, dan kehidupan masyarakat penting dalam membandingkan uraian Plato dengan lingkungan Nusantara. “Dari manuskrip Plato, kondisi geografis, flora, fauna, ciri tumbuhan, musim, dan adat istiadat memiliki kecocokan dengan Nusantara,” ujarnya.

Pernyataan Danny menunjukkan bahwa makanan dapat menjadi bagian dari pembacaan lingkungan, tetapi tidak berdiri sebagai bukti tunggal. Sistem pangan harus ditempatkan bersama kondisi iklim, geografi, air, tanaman, fauna, dan bukti arkeologi.

Baca Juga  Pedang Garuda Bukan Hiasan

AIPI juga menekankan pendekatan multidisiplin untuk merekonstruksi sejarah Sundaland, melibatkan geologi, paleogeografi, arkeogenetik, dan bidang lain. Pendekatan itu diperlukan karena perubahan lingkungan telah mengubah bentang kawasan tersebut secara besar.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang makanan Atlantis membawa penelitian ke persoalan yang sangat manusiawi. Kota besar membutuhkan pangan setiap hari, sehingga sawah, kebun, lumbung, kanal, dan jalur distribusi menjadi bagian penting dari keberlangsungan masyarakat.

Dapur, dengan demikian, bukan sekadar tempat makan. Dalam penelitian peradaban, dapur dapat menjadi pintu untuk memahami pertanian, teknologi air, perdagangan, penyimpanan, dan kemampuan sebuah masyarakat menopang kehidupan dalam skala besar. (*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Kediri, Jatim Mandiri Bea Cukai Kediri bersama Satpol PP Jombang menemukan modus penjualan rokok ilegal menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi…

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Sundaland pernah menjadi bentang daratan luas dengan air, tanah subur, mineral, gunung, dan laut yang mendukung…