Dalam Negeri

Wakapolri Awasi Seleksi Taruna Akpol 2026, Teknologi HRV, BMD, dan VO₂ Max Tingkatkan Akurasi Rikkes

×

Wakapolri Awasi Seleksi Taruna Akpol 2026, Teknologi HRV, BMD, dan VO₂ Max Tingkatkan Akurasi Rikkes

Sebarkan artikel ini
Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo mengawasi langsung Rikkes Spesialistik seleksi Taruna Akpol 2026 di Semarang. Pemeriksaan memanfaatkan teknologi HRV, BMD, dan VO₂ Max untuk memastikan rekrutmen Polri yang objektif, transparan, dan berbasis bukti ilmiah.
Example 468x60

Jatimmandiri.id – Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri), Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M., mengawasi secara langsung pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan (Rikkes) Spesialistik seleksi tingkat pusat (Panitia Pusat/Panpus) Penerimaan Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026 di Gedung Serbaguna Akpol, Lemdiklat Polri, Semarang, Selasa (7/7/2026).

Peninjauan dilakukan bersama Kalemdiklat Polri Komjen Pol. Drs. R. Z. Panca Putra S., M.Si., Gubernur Akpol Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga, S.H., M.A., Karokespol Pusdokkes Polri Brigjen Pol. Dr. dr. I Gusti Gede Maha Andikajaya, S.H., M.M., M.H.Kes., Sp.Rad., M.Kes., serta Karodalpers SSDM Polri Brigjen Pol. Erthel Stephan, S.H., S.I.K., M.Si.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Pengawasan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan pemeriksaan kesehatan berjalan secara profesional, transparan, akuntabel, dan memanfaatkan teknologi kedokteran modern sehingga menghasilkan proses rekrutmen yang objektif serta berbasis bukti ilmiah (evidence-based).

Sebanyak 409 calon taruna dan taruni mengikuti Rikkes Spesialistik dari total 410 peserta yang berhak mengikuti seleksi tingkat pusat. Satu peserta tercatat mengundurkan diri sebelum pelaksanaan pemeriksaan.

Seluruh peserta menjalani pemeriksaan di 12 stasiun spesialistik, meliputi pemeriksaan mata, telinga, hidung dan tenggorokan (THT), gigi dan mulut, saraf, komposisi tubuh, bedah, penyakit dalam, jantung, obstetri dan ginekologi (Obgyn), radiologi dan paru, kulit, hingga pemeriksaan kepadatan tulang (Bone Mineral Density/BMD).

Dalam kesempatan tersebut, Wakapolri memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan teknologi medis terbaru yang diterapkan Pusdokkes Polri untuk meningkatkan akurasi pemeriksaan kesehatan.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah Heart Rate Variability (HRV) untuk menganalisis irama jantung serta kemampuan adaptasi tubuh terhadap aktivitas fisik.

Wakapolri menginstruksikan agar pemeriksaan jantung tidak hanya dilakukan saat peserta beristirahat, tetapi juga setelah aktivitas fisik sehingga ketahanan jantung dapat diukur secara lebih komprehensif.

Baca Juga  Polri Libatkan Ary Ginanjar dalam Assessment Jenderal, Perkuat Sistem Merit dan Transparansi

Selain itu, Komjen Pol. Dedi Prasetyo juga meninjau penggunaan alat Bone Mineral Density (BMD) berbasis digital yang berfungsi mengukur kepadatan massa tulang peserta.

Pemeriksaan tersebut dinilai penting sebagai langkah preventif untuk mendeteksi risiko patah tulang maupun cedera muskuloskeletal sejak dini.

Menurutnya, hasil pemeriksaan kepadatan tulang dapat menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan kesiapan fisik calon taruna dan taruni sebelum menjalani pendidikan kepolisian.

Tak hanya itu, Wakapolri juga memantau pemeriksaan VO₂ Max yang digunakan untuk mengukur kapasitas paru, daya tahan kardiopulmoner, serta kemampuan fisik peserta secara menyeluruh.

Pemanfaatan berbagai instrumen kesehatan berbasis digital tersebut diharapkan mampu menghasilkan keputusan yang lebih objektif, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sehingga hanya peserta yang memenuhi standar kesehatan yang dinyatakan lulus sebagai calon perwira Polri.

Karokespol Pusdokkes Polri Brigjen Pol. Dr. dr. I Gusti Gede Maha Andikajaya menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan dalam seleksi Taruna Akpol kini telah mengintegrasikan berbagai teknologi kedokteran modern.

Menurutnya, selain HRV untuk mengevaluasi respons fisiologis jantung, pemeriksaan BMD berfungsi mengidentifikasi risiko cedera sejak dini, sedangkan VO₂ Max digunakan untuk mengukur kapasitas aerobik serta daya tahan sistem kardiopulmoner peserta.

“Seluruh parameter tersebut dipadukan dengan hasil pemeriksaan spesialistik lainnya sehingga menghasilkan penilaian kesehatan yang lebih komprehensif, objektif, dan berbasis bukti ilmiah,” jelasnya.

Selain penerapan teknologi modern, Wakapolri juga menginstruksikan agar tim pemeriksa melakukan pendalaman terhadap riwayat penyakit bawaan maupun gangguan saraf, seperti epilepsi, agar dapat terdeteksi sejak awal proses seleksi.

Khusus bagi calon taruni, Wakapolri meminta dilakukan pemeriksaan ulang obstetri dan ginekologi (Obgyn) pada hari ke-16 hingga ke-20 setelah pengumuman kelulusan sebagai langkah preventif untuk memastikan seluruh peserta yang memasuki pendidikan benar-benar memenuhi standar kesehatan.

Baca Juga  Astra Serahkan Rumah Layak Huni dan Luncurkan EcoBiz Desa Sejahtera Astra di Garut

Lebih lanjut, Wakapolri mendorong Pusdokkes Polri untuk terus memperbarui peralatan medis dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta referensi dari berbagai jurnal kedokteran terbaru.

Menurutnya, modernisasi instrumen kesehatan merupakan investasi penting dalam membangun sistem rekrutmen Polri yang semakin presisi, transparan, dan mampu menghasilkan sumber daya manusia unggul sejak tahap seleksi.

Ia menegaskan bahwa proses penerimaan Taruna dan Taruni Akpol harus mengedepankan objektivitas, transparansi, akuntabilitas, serta pendekatan ilmiah.

Penguatan sistem seleksi berbasis evidence-based medicine tersebut diharapkan mampu melahirkan calon perwira Polri yang sehat, tangguh, memiliki ketahanan fisik yang terukur, serta siap menghadapi tantangan tugas kepolisian di masa depan.

Komitmen itu juga menjadi bagian dari implementasi rekrutmen Polri yang Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH) sekaligus memperkuat konsep scientific policing, sehingga Polri mampu menghasilkan perwira muda yang profesional, berintegritas, adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta siap memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *