Sragen, Jatimmandiri.id-Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, upaya pelestarian kearifan lokal kembali digaungkan di Kabupaten Sragen.
Momentum Hari Bumi 2026 dimanfaatkan Polres Sragen untuk melakukan gerakan konservasi pohon langka Padmonobo atau yang dikenal masyarakat dengan nama Tlogosari.
Kegiatan penanaman pohon tersebut dipimpin langsung Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari bersama para Pejabat Utama (PJU) Polres Sragen di lingkungan Mapolres Sragen, Jumat (29/5/2026).
Gerakan ini menjadi bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan sekaligus menjaga warisan budaya dan nilai spiritual masyarakat Sukowati yang selama ini melekat pada keberadaan pohon Padmonobo.
Sebelumnya, gerakan pelestarian pohon tersebut telah digaungkan melalui kegiatan Sragen Regency Tour atau Sragen Adventure bersama Yayasan Pastika Kabupaten Sragen pada momentum Hari Bumi 10 Mei 2026.
Kapolres Sragen menegaskan bahwa penanaman pohon Padmonobo bukan sekadar kegiatan penghijauan seremonial, melainkan simbol komitmen menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur.
“Padmonobo bukan sekadar vegetasi langka, tetapi simbol spiritualitas dan identitas budaya masyarakat Sukowati yang harus dijaga bersama,” ujar AKBP Dewiana Syamsu Indyasari.
Secara morfologis, pohon Padmonobo memiliki kemiripan dengan pohon Pule atau Walisongo. Namun, pohon ini mempunyai karakteristik unik yang membuatnya dianggap sakral oleh sebagian masyarakat tradisional Jawa.
Keunikan paling mencolok terlihat pada pola pertumbuhan daunnya. Dalam satu klaster, daun Padmonobo hanya tumbuh berjumlah lima, enam, atau tujuh helai.
Dalam filosofi masyarakat Jawa, angka-angka tersebut memiliki makna simbolik yang erat dengan spiritualitas dan keseimbangan hidup.
Angka lima dimaknai sebagai filosofi “Kiblat Papat Limo Pancer”, sedangkan angka tujuh atau pitu dimaknai sebagai pitulungan atau pertolongan ilahi.
Karena itu, pohon Padmonobo dipercaya sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Nama lain pohon tersebut, yakni Tlogosari, juga memiliki makna filosofis mendalam.
Dalam penafsiran budaya Jawa, Tlogosari diartikan sebagai inti atau bunga yang berada di tengah telaga, menggambarkan ketenangan jiwa dan kedekatan spiritual kepada Tuhan.
Keberadaan pohon Padmonobo diketahui tersebar di sejumlah lokasi yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi di Kabupaten Sragen.
Salah satunya berada di Dukuh Glagah, Desa Blangu, Kecamatan Gesi.
Berdasarkan cerita babad masyarakat setempat, pohon tersebut pertama kali ditemukan di titik tengah Gunung Gendeng yang diyakini sebagai pusat kehidupan.
Selain itu, pohon Padmonobo juga ditemukan di kawasan Makam Butuh, Kecamatan Plupuh, yang berkaitan dengan jejak sejarah Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya.
Lokasi lainnya berada di kawasan Mojoroto, Kecamatan Sambirejo, tepatnya di area petilasan Ki Ageng Srenggi yang berdekatan dengan bumi perkemahan Ki Ageng Srenggi.
Keberadaan pohon Padmonobo di kawasan-kawasan historis tersebut semakin menguatkan keyakinan masyarakat bahwa tanaman ini sejak dahulu dijadikan penanda kawasan sakral dan tempat suci.
Kapolres Sragen menyebut gerakan konservasi ini memiliki makna lebih luas dibanding sekadar penghijauan lingkungan.
Penanaman Padmonobo di lingkungan Mapolres Sragen menjadi simbol bahwa institusi kepolisian juga turut menjaga kelestarian lingkungan, budaya, dan nilai sejarah daerah.
Menurutnya, menjaga kelestarian Padmonobo berarti menjaga memori sejarah, filosofi leluhur, sekaligus keseimbangan ekologis wilayah Sukowati.
“Menjaga alam sejatinya adalah menjaga warisan leluhur dan menjaga masa depan generasi berikutnya,” ungkap AKBP Dewiana Syamsu Indyasari.
Di tengah ancaman hilangnya vegetasi asli akibat alih fungsi lahan dan minimnya regenerasi tanaman endemik, gerakan tersebut diharapkan mampu membangkitkan kesadaran masyarakat agar kembali mengenali identitas ekologis daerahnya sendiri.
Kini, pohon Padmonobo tidak lagi sekadar dipandang sebagai pohon tua di kawasan petilasan. Lebih dari itu, Padmonobo menjadi simbol hidup tentang hubungan harmonis antara manusia, sejarah, budaya, dan alam di Bumi Sukowati.












