Malang, Jatimmandiri.id – Kabut tipis mulai turun menyelimuti lereng Gunung Kawi siang itu. Aroma harum hio bercampur wewangian kembang mawar menyeruak di udara, menciptakan atmosfer magis yang meneduhkan.
Di depan bangunan joglo utama Pesarean Eyang Djoega (Kyai Zakaria II) dan Eyang R.M. Imam Soedjono, puluhan orang tampak berkumpul.
Menariknya, mata mereka tidak saling bertatap muka, melainkan kompak mendongak ke atas, menatap rindangnya dedaunan dari sebuah pohon yang dikeramatkan Pohon Dewandaru (Eugenia uniflora).

Para peziarah di sini bukan sedang mengamati burung, melainkan sedang berburu keberuntungan. Tepatnya, menanti selembar daun tua atau sebutir buah dewandaru jatuh secara alami dari rantingnya.
Bagi sebagian peziarah, bagian pohon yang jatuh secara alami ini diyakini membawa tuah kelancaran rezeki atau keberkahan hidup. Namun, mendapatkan “hadiah” dari langit Kawi ini ternyata bukan perkara mudah. Ini adalah ujian kesabaran tingkat tinggi yang memerlukan ketekunan tersendiri.
“Jangankan buahnya, mencari daun yang agak tua atau kering saja susahnya minta ampun,” ujar Fardhan, salah satu pengunjung yang siang itu ikut mencoba peruntungannya di bawah kerindangan pohon legendaris tersebut.
Begitu angin semilir berembus dan selembar daun mulai lepas dari batangnya, suasana tenang langsung berubah riuh. Belasan tangan refleks menjulur ke atas, saling berebut layaknya mendapat durian runtuh.
Dalam sekejap mata, daun kering yang baru menyentuh tanah langsung lenyap. Hasilnya? Bagi yang kurang cekatan, ya harus rela pulang dengan tangan hampa.
Jejak Sejarah dan Harmoni Tradisi Gunung Kawi
Di balik riuhnya perburuan daun dewandaru, kompleks Pesarean Gunung Kawi sebenarnya menyimpan narasi sejarah dan toleransi yang sangat mendalam.
Berdasarkan catatan sejarah lokal, Eyang Djoega dan Eyang R.M. Imam Soedjono adalah sosok ulama sekaligus bangsawan keturunan Keraton Mataram yang juga merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro.
Setelah berakhirnya Perang Jawa pada tahun 1830, mereka membuka lahan di lereng Kawi ini dan menjadi tokoh yang sangat dihormati karena jiwa sosial serta kebijaksanaannya.
Hebatnya, ruang penghormatan ini berkembang menjadi simbol akulturasi budaya yang luar biasa. Tepat di sebelah area pesarean Jawa-Islam tersebut, berdiri megah Klenteng Dewi Kwan Im dengan dominasi warna merah menyala dan kepulan asap hio yang khas.
Kawasan ini menjadi ruang temu yang unik: lantunan doa dalam tradisi Jawa-Islam di joglo pesarean bersahut-sahutan harmoni dengan prosesi sembahyang umat Tionghoa di klenteng.
Di Gunung Kawi, perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi sekat, melainkan lebur dalam satu rasa hormat yang sama terhadap leluhur dan sejarah.

Membaca Isyarat Nasib Lewat Ciamsi
Eksplorasi budaya di Gunung Kawi tidak berhenti di pohon dewandaru. Melangkah masuk ke dalam area Klenteng Dewi Kwan Im, pengunjung akan disuguhkan dengan tradisi unik lain bernama Ciamsi—sebuah metode ramalan kuno Tionghoa untuk membaca peruntungan masa depan.
Prosesi ini membutuhkan konsentrasi dan ketulusan hati. Pengunjung akan memegang tabung bambu yang berisi puluhan lidi bernomor, lalu mengocoknya dengan ritme konstan yang khas hingga ada satu lidi yang melompat keluar.
Kemudian, nomor pada lidi yang terjatuh tersebut kemudian ditukarkan kepada petugas klenteng untuk mendapatkan secarik kertas ciamsi.
Di dalam kertas itulah tertera bait-bait puisi Tionghoa kuno beserta terjemahannya yang menjabarkan prediksi nasib peziarah, mulai dari urusan jodoh, kesehatan, hingga dinamika bisnis atau rezeki ke depan.
Menariknya, ritual ciamsi ini tidak hanya diminati oleh warga keturunan Tionghoa, melainkan juga peziarah lintas suku dan agama yang ingin mencari petunjuk atau sekadar merefleksikan langkah hidup mereka.
Menunggu jatuhnya daun dewandaru maupun mengocok lidi ciamsi mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian orang luar sebagai hal mistis.
Namun jika ditelisik lebih dalam dari kacamata antropologi budaya, ritual-ritual ini adalah manifestasi psikologis dari sebuah harapan, usaha keras manusia, dan—tentu saja—sebuah seni tentang cara bersabar menghadapi ketidakpastian hidup.
Saat matahari mulai condong ke barat dan dinginnya lereng Kawi semakin menusuk tulang, kepulan asap dari warung kopi serta aroma tahu petis hangat di sekitar area pesarean seolah memanggil para pengunjung untuk beristirahat.
Daun dewandaru atau ramalan ciamsi yang bagus boleh jadi tidak selalu didapatkan hari itu. Namun, pengalaman empiris merasakan hangatnya toleransi di tengah keberagaman lereng Gunung Kawi adalah buah tangan tak ternilai yang jauh lebih berharga untuk dibawa pulang.
Dipublikasikan berdasarkan liputan langsung di kawasan wisata religi Gunung Kawi, Malang.








