Jakarta, Jatimmandiri.id, – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menunjukkan kesiapan yang kuat untuk terus memperluas pembiayaan produktif di tengah kondisi ekonomi global yang masih dibayangi berbagai ketidakpastian. Kekuatan tersebut ditopang oleh posisi permodalan yang solid serta likuiditas yang tetap terjaga pada level yang sehat hingga akhir Triwulan I 2026.
Ruang ekspansi bisnis BRI masih terbuka lebar berkat tingkat permodalan yang jauh melampaui batas minimum yang ditetapkan regulator. Dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 22,90 persen, perseroan memiliki kapasitas yang besar untuk mendukung pertumbuhan kredit secara berkelanjutan sekaligus menjaga ketahanan menghadapi berbagai potensi risiko di masa mendatang.
Di saat yang sama, BRI tetap mampu mempertahankan kinerja keuangan yang tangguh meski perekonomian global masih menghadapi tantangan akibat dinamika geopolitik. Strategi pertumbuhan yang dijalankan perseroan tetap berlandaskan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan penerapan manajemen risiko yang disiplin.
Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi menjelaskan bahwa kondisi likuiditas perseroan masih berada pada posisi yang sangat memadai. Hal itu tercermin dari rasio loan to deposit ratio (LDR) yang berada pada level ideal untuk menjaga fungsi intermediasi sekaligus membuka peluang pertumbuhan kredit ke depan.
“Hingga akhir Maret 2026, loan to deposit ratio (LDR) BRI tercatat 86,7 persen yang menurut kami masih ideal dalam hal mengelola fungsi intermediary, tidak terlalu ketat namun juga cukup optimal untuk mendorong pertumbuhan kredit ke depan,” ujar Achmad.
Selain menjaga likuiditas, BRI juga berhasil meningkatkan kualitas struktur pendanaannya. Perseroan mencatat perbaikan signifikan dalam pengelolaan biaya dana atau cost of fund yang berasal dari dana pihak ketiga.
Sepanjang Triwulan I 2026, cost of fund berhasil ditekan menjadi 2,3 persen, turun dari posisi 3,0 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan sebesar 65 basis poin tersebut menunjukkan efektivitas strategi pendanaan yang diterapkan perusahaan.
Efisiensi tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya porsi dana murah atau current account savings account (CASA). Rasio CASA BRI tercatat naik dari 65,8 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 68,1 persen pada Triwulan I 2026. Kenaikan ini memperkuat struktur funding sekaligus membantu menekan biaya penghimpunan dana.
Menurut Achmad, disiplin dalam menjaga likuiditas menjadi salah satu faktor penting yang terus dijalankan perusahaan secara konsisten.
“Yang juga penting, kami menjaga disiplin dalam pengelolaan likuiditas ini secara konsisten. Hal ini tidak hanya untuk memastikan kecukupan dana, tetapi juga berdampak langsung pada efisiensi biaya dana (cost of fund) serta kualitas struktur pendanaan yang semakin optimal,” imbuhnya.
Posisi likuiditas dan permodalan yang kuat tersebut memberikan fleksibilitas bagi BRI untuk terus menjalankan fungsi intermediasi secara optimal. Perseroan memiliki ruang yang cukup luas untuk memperbesar penyaluran kredit, terutama pada sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak ekonomi nasional.
Kondisi ini juga menjadi modal penting bagi BRI dalam memperkuat dukungan terhadap segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang selama ini menjadi fokus utama pembiayaan perseroan. Dengan fondasi keuangan yang sehat, pertumbuhan bisnis dapat tetap berjalan tanpa mengesampingkan prinsip kehati-hatian.
Achmad menegaskan bahwa BRI akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan penguatan fundamental keuangan agar kontribusi perusahaan terhadap perekonomian nasional dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Ke depan, kami akan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan likuiditas dan ketahanan permodalan, sehingga BRI dapat terus berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” pungkasnya.












