Jember, Jatimmandiri.id – Pengembangan investasi strategis melalui Danantara dinilai dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, peluang tersebut perlu ditopang tata kelola transparan, kepastian regulasi, dan proyek yang layak secara ekonomi agar manfaatnya dirasakan masyarakat.
Pakar ekonomi Universitas Jember (Unej), Adhitya Wardhono, PhD, mengatakan investasi tidak cukup hanya meningkatkan arus modal, tetapi juga harus menghasilkan lapangan kerja berkualitas dan mendorong transfer teknologi.
“Yang terpenting, investasi tersebut harus mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas dan mendorong transfer teknologi,” katanya di Jember, Kamis (22/10/2026).
Menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unej tersebut, selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, pemerintah berupaya memperluas sumber pertumbuhan melalui hilirisasi dan pengembangan sektor baru. Meski demikian, investasi masih terkonsentrasi pada sektor mineral, sementara peluang ekonomi hijau dan digital belum sepenuhnya tergarap.
Pemerintah, lanjut Adhitya, perlu memperluas investasi pada energi terbarukan dan industri berbasis teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). Insentif fiskal perlu disertai kepastian hukum serta iklim usaha yang kondusif untuk menarik investor jangka panjang.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah dan arus keluar modal asing juga perlu dicermati. Adhitya menilai penguatan dolar Amerika Serikat dan ketidakpastian geopolitik turut memengaruhi pasar. Namun, kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi dan konsistensi kebijakan domestik tetap menjadi faktor penting.
“Di tengah tekanan pasar saham, aliran modal asing ke SBN dan instrumen Bank Indonesia sebenarnya masih menunjukkan minat investor terhadap aset Indonesia. Meski begitu, kekhawatiran MSCI terhadap transparansi pasar modal menjadi catatan serius yang tidak boleh diabaikan,” katanya.
Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia perlu melanjutkan intervensi pasar valuta asing dan memperkuat instrumen lindung nilai. Kendati demikian, mempertahankan rupiah pada tingkat tertentu dengan segala cara berisiko menimbulkan konsekuensi ekonomi. Ketergantungan pada suku bunga tinggi dapat menekan penyaluran kredit dan memperlambat pertumbuhan.
Adhitya juga menekankan pentingnya disiplin fiskal dan kredibilitas pengelolaan utang oleh Kementerian Keuangan. Menurutnya, menahan arus keluar modal tidak cukup dengan menawarkan imbal hasil tinggi, tetapi membutuhkan kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah.
“Pemerintah beserta jajarannya harus bisa membangun kepercayaan investor melalui konsistensi kebijakan dan tata kelola pasar keuangan yang kredibel, sembari juga memikirkan bagaimana caranya mengurangi ketergantungan terhadap dolar secara bertahap,” ujarnya.
Dengan tata kelola yang kuat, Danantara berpeluang mendukung diversifikasi investasi, memperkuat industri berbasis teknologi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.












