Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Kenaikan permukaan laut setelah zaman es mengubah Sundaland dari bentang daratan luas menjadi wilayah yang sebagian terendam, termasuk paparan dangkal di kawasan Laut Jawa. Perubahan tersebut menjadi konteks penting bagi hipotesis Insinyur Teknik Sipil Hidro, Dhani Irwanto tentang kemungkinan Atlantis di sekitar Gosong Gia.
—————
Sundaland merupakan kawasan daratan yang pada masa permukaan laut lebih rendah menghubungkan wilayah yang kini menjadi Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Ketika es daratan mencair pada akhir zaman es, permukaan laut naik dan garis pantai bergeser, mengubah bentuk wilayah yang sebelumnya terbuka.
Perubahan bentang alam itu dapat ditelusuri melalui kajian geologi dan rekonstruksi peta masa lalu. Lembah, cekungan, serta alur di dasar laut dapat membantu peneliti memahami bentuk daratan dan kemungkinan jalur sungai yang pernah ada.
Dalam rekonstruksinya, Dhani Irwanto menghubungkan perubahan lingkungan Sundaland dengan kemungkinan tenggelamnya wilayah yang ia identifikasi sebagai lokasi Atlantis. Ia menempatkan Gosong Gia atau Annie Florence Reef, sekitar 150 kilometer timur laut Pulau Bawean, Gresik, sebagai kandidat lokasi ibu kota peradaban tersebut.
“Peta bumi 11.600 tahun, Pulau Kalimantan, Jawa dan Sumatera masih terhubung dalam satu daratan, disebut Sundalandia,” kata Dhani saat menjelaskan interpretasinya terhadap bentang alam masa lalu.
Menurut Dhani, bentuk terumbu Gosong Gia memiliki kemiripan dengan gambaran kota bercincin dalam tulisan Plato. Ia juga mengaitkan perubahan lingkungan, gempa, tsunami, dan kenaikan permukaan laut dengan kemungkinan tenggelamnya wilayah tersebut.
Namun, perubahan garis pantai dan tenggelamnya daratan merupakan proses geologi yang tidak dengan sendirinya membuktikan adanya Atlantis. Hubungan antara peristiwa alam, serta dugaan keberadaan kota kuno masih memerlukan bukti yang dapat diuji secara independen.
Di sisi lain, rekonstruksi Sundaland yang dipresentasikan geolog Danny Hilman Natawidjaja dalam forum AIPI pada 2024 juga memperlihatkan bahwa permukaan laut sekitar 12.000 tahun lalu jauh lebih rendah dibandingkan sekarang. Gambaran tersebut mendukung pemahaman bahwa kawasan Asia Tenggara mengalami perubahan geografis besar sejak akhir zaman es.
Meski demikian, tinggi permukaan laut pada masa lalu tidak selalu sama di setiap lokasi. Pergerakan kerak bumi, naik atau turunnya daratan, serta pengendapan material dapat memengaruhi bentuk dan kedalaman dasar laut.
Karena itu, untuk mengetahui riwayat Gosong Gia, peneliti perlu menggabungkan peta kedalaman laut, kajian lapisan sedimen, serta sampel geologi yang dapat ditentukan umurnya. Data tersebut dapat membantu menyusun urutan perubahan lingkungan dan menguji apakah suatu formasi terbentuk secara alami atau melibatkan aktivitas manusia.
Dhani menempatkan kecocokan antara gambaran Plato dan lingkungan Sundaland sebagai dasar hipotesisnya. Akan tetapi, belum ada temuan arkeologis independen yang memastikan Gosong Gia sebagai bekas kota kuno.
Perubahan Sundaland sendiri merupakan bagian penting dari sejarah lingkungan Asia Tenggara. Kajian lebih lanjut dapat memperkaya pemahaman tentang garis pantai purba, jalur sungai, dan kehidupan manusia di kawasan yang kini terendam. (*/ibn)












