Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Pendidikan berbasis sains dan riset perlu diperkenalkan sejak dini agar peserta didik tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu berpikir kritis, berkreasi, dan memecahkan persoalan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menekankan pentingnya penguatan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) di sekolah dasar hingga menengah.
Hal itu disampaikan Mu’ti saat meresmikan gedung baru SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin. Pengembangan STEM di jenjang pendidikan dasar dan menengah, menurut dia, merupakan bagian dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kompetensi peserta didik.
Mu’ti menjelaskan, pengembangan kemampuan siswa tidak cukup hanya berfokus pada bidang akademik. Pendidikan seni dan olahraga juga perlu mendapat ruang agar anak dapat mengembangkan potensi sesuai minat dan bakatnya.
“Bahkan dalam Sekolah Nasional Terintegrasi yang kami kelola, selain STEM kami juga memperkuat pendidikan seni dan olahraga agar siswa memiliki kemampuan yang beragam sesuai dengan potensi masing-masing,” katanya.
Pengembangan pendidikan yang mengakomodasi kemampuan istimewa tersebut, lanjut Mu’ti, sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Regulasi itu menyatakan bahwa anak-anak yang memiliki kemampuan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.
Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti juga menyoroti pengembangan pendidikan berbasis riset di lingkungan Muhammadiyah, khususnya di Sidoarjo. Salah satu contohnya adalah SMP Muhammadiyah 2 Taman yang menerapkan kurikulum riset untuk membangun budaya penelitian di kalangan siswa.
Menurut dia, pendekatan tersebut dapat menumbuhkan kreativitas, semangat meneliti, serta kemampuan memecahkan masalah sejak dini. Kompetensi itu dinilai selaras dengan tujuan penerapan STEM yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam proses pembelajaran.
Selain mengapresiasi inovasi pembelajaran, Mu’ti memberikan perhatian terhadap penerapan pendidikan inklusif di SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman. Kedua sekolah tersebut dinilai telah menyediakan berbagai sarana dan prasarana untuk memberikan kesempatan belajar kepada anak-anak berkebutuhan khusus.
Praktik tersebut diharapkan menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lain dalam menyediakan layanan yang ramah bagi seluruh peserta didik, termasuk mereka yang membutuhkan dukungan khusus.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Muhammadiyah yang senantiasa memberikan dukungan untuk memberikan layanan pendidikan yang bermutu bagi seluruh masyarakat,” ujar Mu’ti.
Penguatan STEM, budaya riset, pendidikan seni dan olahraga, serta layanan inklusif menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang mampu mengembangkan potensi setiap anak secara lebih menyeluruh.












