Oleh:Irra Chrisyanti Dewi
Staff Pengajar School of Culinary, Food Technology & Tourism Universitas Ciputra Surabaya
Alumni Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya
Pariwisata tidak lagi cukup hanya “berkelanjutan”.
Dunia kini bergerak menuju konsep regenerative tourism—sebuah pendekatan yang tidak sekadar menjaga, tetapi juga memulihkan dan meningkatkan kualitas lingkungan, budaya, serta kesejahteraan masyarakat lokal.
Saat ini, menjadi momentum penting bagi Jawa Timur untuk menata ulang arah kebijakan pariwisatanya.
Sebagai salah satu provinsi dengan kekayaan alam dan budaya luar biasa—mulai dari Gunung Bromo, kawasan pesisir selatan, hingga wisata mangrove dan desa wisata—Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor pariwisata regeneratif di Indonesia.
Namun, potensi tersebut perlu diiringi dengan strategi yang tepat, kolaborasi lintas sektor, serta kebijakan yang progresif.
Transformasi dari Sustainability ke Regenerasi Selama ini, konsep sustainable tourism berfokus pada pengurangan dampak negatif—mengurangi sampah, menjaga ekosistem, dan membatasi eksploitasi.
Namun, pendekatan ini sering kali bersifat defensif. Sebaliknya, regenerative tourism mendorong destinasi untuk menjadi lebih baik dari kondisi sebelumnya.
Dalam konteks Jawa Timur, pendekatan ini dapat diwujudkan melalui rehabilitasi kawasan wisata yang mengalami degradasi lingkungan; pemberdayaan masyarakat lokal sebagai aktor utama, bukan sekadar objek; dan penguatan identitas budaya dan kearifan lokal dalam pengalaman wisata.
Contohnya, kawasan Bromo yang menghadapi tekanan overtourism dapat diarahkan menjadi laboratorium wisata regeneratif melalui pembatasan kuota berbasis data, edukasi wisatawan, dan pelibatan masyarakat Tengger dalam pengelolaan berbasis adat.
Empat Pilar Strategis untuk Jawa Timur Pilar yang pertama adalah Circular Economy dalam Hospitality, di mana industri perhotelan dan kuliner di Jawa Timur masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan limbah.
Konsep circular economy dapat diterapkan melalui pengolahan limbah makanan menjadi kompos atau produk bernilai ekonomi; pengurangan plastik sekali pakai di hotel dan restoran; dan kolaborasi dengan UMKM lokal untuk penggunaan bahan baku berkelanjutan Pemerintah daerah dapat memberikan insentif pajak bagi pelaku usaha yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular, sekaligus menetapkan standar wajib untuk hotel ramah lingkungan.
Kedua, Indigenous Wisdom sebagai Daya Tarik Utama yang mana kearifan lokal masyarakat Jawa Timur, seperti tradisi Tengger, budaya Osing di Banyuwangi, hingga kearifan pesisir di Madura, merupakan aset tak ternilai.
Sayangnya, sering kali hanya dijadikan “atraksi” tanpa memberikan manfaat signifikan bagi masyarakatnya.
Sehingga, kebijakan perlu diarahkan pada perlindungan hak budaya masyarakat adat; skema bagi hasil yang adil dalam pengelolaan wisata; dan integrasi cerita lokal (storytelling) dalam paket wisata.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata, tetapi juga menjaga keberlanjutan identitas budaya.
Ketiga, Carbon-Positive Travel alih-alih hanya mengurangi emisi, carbon-positive travel mendorong sektor pariwisata untuk memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan.
Langkah konkret yang bisa diambil adalah mengembangkan transportasi wisata berbasis energi terbarukan; menerapkan program penanaman pohon berbasis partisipasi wisatawan; dan mengadakan sertifikasi destinasi rendah karbon.
Kementerian Pariwisata bersama pemerintah daerah dapat menginisiasi program “Jawa Timur Carbon Positive Destination” sebagai pilot project nasional.
Keempat, AI dan Smart Tourism di mana pemanfaatan teknologi menjadi kunci dalam mengelola pariwisata secara efektif.
Artificial Intelligence dan sistem digital dapat digunakan untuk mengatur jumlah kunjungan wisatawan secara real-time; menganalisis perilaku wisatawan untuk meningkatkan layanan; dan mengoptimalkan promosi digital berbasis data.
Namun, transformasi digital ini harus inklusif. Pelaku UMKM dan desa wisata perlu mendapatkan pelatihan agar tidak tertinggal dalam ekosistem digital.
Tantangan yang Harus Diatasi Meskipun potensinya besar, implementasi pariwisata regeneratif di Jawa Timur menghadapi sejumlah tantangan, yaitu: kurangnya koordinasi antarinstansi; minimnya literasi konsep regeneratif di kalangan pelaku industry; ketergantungan pada model pariwisata massal; dan keterbatasan pendanaan untuk inovasi berbasis lingkungan.
Tanpa intervensi kebijakan yang kuat, konsep ini berisiko hanya menjadi wacana tanpa implementasi nyata.
Rekomendasi Kebijakan untuk Pemerintah Agar Jawa Timur dapat menjadi pionir dalam regenerative tourism, berikut beberapa rekomendasi strategis.
Pertama, terkait dengan penyusunan regenerative tourism roadmap, pemerintah provinsi perlu menyusun roadmap jangka panjang yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Roadmap ini harus selaras dengan kebijakan nasional dan target pembangunan berkelanjutan.
Kedua, memberikan insentif bagi pelaku green industry.
Berikan insentif fiskal dan non-fiskal bagi hotel, restoran, dan operator wisata yang menerapkan praktik ramah lingkungan dan regeneratif.
Ketiga, melakukan penguatan pada peran desa wisata. Desa wisata harus menjadi pusat pengembangan regenerative tourism.
Program pelatihan, pendampingan, dan akses pembiayaan perlu diperluas. Keempat, mengadakan kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Institusi pendidikan seperti universitas dapat menjadi pusat riset dan inovasi. Program seperti International Summer Course harus dimanfaatkan sebagai ruang pertukaran ide dan praktik terbaik global.
Kelima, melaksanakan digitalisasi yang terintegrasi. Bangun sistem digital terpadu untuk manajemen destinasi, mulai dari reservasi, monitoring kunjungan, hingga analisis data wisatawan.
Keenam, mengadakan kampanye edukasi pada wisatawan. Wisatawan perlu diedukasi untuk menjadi bagian dari solusi.
Kampanye “wisata bertanggung jawab” harus diperkuat melalui media sosial dan platform digital.
Peran Strategis Kementerian Pariwisata Di tingkat nasional, Kementerian Pariwisata memiliki peran penting dalam menyusun regulasi yang mendukung regenerative tourism; mendorong green invesment di sektor pariwisata; mengembangkan standar nasional untuk regenerative destination; dan memfasilitasi kolaborasi internasional.
Program internasional seperti summer course ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pembelajaran global dalam pariwisata berkelanjutan dan regeneratif.
Penutup: Momentum Jawa Timur Jawa Timur tidak hanya memiliki destinasi yang indah, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi model baru pariwisata masa depan.
Dengan mengadopsi pendekatan regenerative tourism, provinsi ini dapat menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Momentum ini tidak boleh disia-siakan. Dibutuhkan keberanian untuk berinovasi, komitmen lintas sektor, dan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan jangka panjang.
Jika dikelola dengan tepat, Jawa Timur tidak hanya akan menjadi tujuan wisata, tetapi juga inspirasi bagi dunia.
Pariwisata bukan lagi soal jumlah kunjungan, melainkan tentang dampak yang ditinggalkan, dari Jawa Timur, maka kita bisa memulai perubahan itu.












