Jakarta, Jatimmandiri.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak hanya berpusat pada anak, tetapi juga menempatkan orang tua sebagai mitra utama agar proses belajar berlanjut hingga di rumah.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian dari paradigma baru pendidikan yang menekankan pemahaman, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar menghafal materi.
“Deep learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, bukan hafalan. Kita ingin anak tidak hanya membaca tetapi memahami, tidak hanya menghitung tetapi menganalisis, serta mampu menerapkan pengetahuan dan berinovasi,” ujar Atip dalam keterangan tertulis, Kamis.
Konsep tersebut telah diterapkan di sejumlah sekolah. Kepala TK Bunda Ganesha Bandung, Susi Hindayani, menjelaskan pembelajaran dilakukan melalui kegiatan berbasis proyek, aktivitas kontekstual, kebebasan memilih permainan, serta penggunaan media yang mendorong eksplorasi dan perkembangan sensorik anak.
“Anak diberi kesempatan untuk bereksplorasi, bertanya, menyampaikan pendapat, dan membangun pengetahuannya sendiri. Bagi kami, bermain adalah belajar,” katanya.
Menurut Susi, keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dari proses tersebut. Saat peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026, misalnya, sekolah mengajak orang tua dan anak mengolah sampah daur ulang menjadi karya seni sehingga pengalaman belajar tidak berhenti di sekolah.
“Orang tua kami libatkan sebagai mitra belajar agar pengalaman belajar anak berlanjut di rumah,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi penerapan pembelajaran mendalam melalui pemetaan minat, tahap perkembangan anak, serta penyediaan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan.
Hal senada disampaikan Kepala TK Gagas Ceria, Catur Wulandari, yang menilai pendekatan deep learning membantu anak memahami makna dari pengalaman sehari-hari sekaligus membentuk karakter.
“Anak belajar melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupannya sehingga tumbuh rasa ingin tahu, kemampuan berpikir, dan karakter sebagai bekal masa depan,” katanya.
Dalam pendekatan ini, guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan pertanyaan terbuka dan tantangan sesuai perkembangan anak. Bermain tetap menjadi metode utama karena dinilai efektif melatih kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama, berkomunikasi, mengelola emosi, serta memahami berbagai konsep sejak usia dini












