Jatimmandiri.id – Petenis nomor satu dunia Jannik Sinner kembali menunjukkan dominasinya di lapangan rumput.
Bintang asal Italia itu berhasil mempertahankan gelar Wimbledon 2026 setelah mengalahkan petenis Jerman Alexander Zverev dengan skor 6-7 (7), 7-6 (2), 6-3, 6-4 pada partai final yang berlangsung di All England Club, Minggu (12/7/2026).
Kemenangan ini menjadi gelar Wimbledon kedua secara beruntun bagi Sinner sekaligus trofi Grand Slam kelima sepanjang kariernya.
Keberhasilan tersebut juga menjadi jawaban sempurna setelah kegagalannya di Prancis Terbuka 2026, ketika langkahnya terhenti secara mengejutkan pada babak kedua usai kehilangan keunggulan dalam kondisi cuaca panas di Paris.
Bangkit dari Kegagalan di Paris
Sinner tampil penuh percaya diri sepanjang turnamen Wimbledon. Setelah sempat menjalani laga lima set pada putaran pertama, ia terus melaju tanpa kehilangan satu set hingga mencapai final.
Saat memastikan kemenangan melalui pukulan forehand menyusur garis pada match point pertama, Sinner langsung menjatuhkan diri ke rumput sebagai bentuk selebrasi.
“Tidak ada tempat yang lebih baik untuk bermain tenis selain di sini,” ujar Sinner saat menerima trofi juara.
Setahun sebelumnya, Sinner juga menjadi juara Wimbledon setelah mengalahkan Carlos Alcaraz di partai final. Kala itu, ia bangkit dari kekecewaan karena gagal memanfaatkan tiga match point pada final Prancis Terbuka.
Cedera Lutut Ganggu Permainan Alexander Zverev
Final berlangsung sengit sejak awal. Zverev bahkan mampu merebut set pertama melalui tie-break setelah pertandingan berjalan ketat.
Namun, momentum berubah pada set ketiga ketika Zverev terpeleset saat mengejar bola hasil drop shot Sinner. Petenis Jerman itu terlihat mengalami gangguan pada lutut kanannya setelah melakukan perubahan arah.
Melihat lawannya terjatuh, Sinner segera menghampiri dan membantu Zverev berdiri sebelum pertandingan kembali dilanjutkan.
Meski tetap bermain, pergerakan Zverev tampak tidak lagi maksimal. Ia kehilangan servis untuk pertama kalinya pada pertandingan tersebut sehingga Sinner berhasil mengamankan set ketiga.
Statistik Sinner Lebih Efisien
Secara statistik, Sinner tampil lebih efektif dibandingkan lawannya.
Petenis Italia itu membukukan 58 winner dengan hanya 25 unforced error. Sebaliknya, Zverev menghasilkan 49 winner, tetapi melakukan 45 kesalahan sendiri.
Dalam servis, Zverev memang lebih unggul dengan 17 ace, sedangkan Sinner mengandalkan akurasi servis dan permainan reli yang lebih konsisten.
Usai pertandingan, Zverev mengakui kualitas permainan sang juara.
“Dia kembali menunjukkan mengapa saat ini menjadi pemain terbaik di dunia,” kata Zverev.
Torehan Rekor Jannik Sinner
Keberhasilan mempertahankan gelar Wimbledon membuat Sinner kembali mencatatkan sejumlah rekor penting dalam dunia tenis.
Di antaranya:
- Meraih gelar Grand Slam kelima sepanjang karier.
- Menjadi juara Wimbledon dua musim berturut-turut.
- Mengoleksi 30 gelar tunggal ATP.
- Mencatatkan 100 kemenangan di turnamen Grand Slam.
- Menjadi petenis kelima pada Era Terbuka yang berhasil mempertahankan gelar di lebih dari satu turnamen Grand Slam sebelum berusia 25 tahun, menyamai pencapaian Roger Federer, Bjorn Borg, Jim Courier, dan Carlos Alcaraz.
- Mengoleksi 44 kemenangan sepanjang musim 2026, menyamai catatan Alexander Zverev sebagai yang terbanyak di ATP Tour.
Zverev Naik ke Peringkat Dua Dunia
Meski gagal membawa pulang trofi Wimbledon, Zverev tetap memperoleh kabar baik.
Petenis berusia 29 tahun itu dipastikan naik ke peringkat dua dunia ATP, menggeser Carlos Alcaraz yang absen di Prancis Terbuka dan Wimbledon tahun ini akibat cedera pergelangan tangan kanan.
Sementara itu, gelar Wimbledon semakin mengukuhkan posisi Jannik Sinner sebagai petenis terbaik dunia sekaligus kandidat terkuat untuk menutup musim 2026 sebagai petenis nomor satu ATP.












